e-Wayang

KAHADIRAN e-wayang atau wayang digital memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat.
Ada yang setuju karena dianggap sebagai inovasi, dan bisa menduniakan wayang di dunia maya. Sementara sisanya menolak. Sebab tidak sesuai pakem yang ada.
Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Tegal, Ki Barep secara tegas tidak setuju dengan e-wayang. Menurutnya, jaman boleh saja maju dan peradaban bisa modern. Tapi yang namanya seni tradisional harus tetap dipertahankan. Apabila wayang dimainkan dengan computer, maka rasa wayangnya jelas hilang. Karena di dalam wayang mengandung unsur seni lukis, pahat, monolog, etika, estetika, dan religius.
“Apabila dipaksakan, bakal menjurus seperti film kartun wayang. Contohnya di Jepang dan Thailand tetap mempertahankan seni tradisional. Di dalam setiap pementasan wayang kulit, terjadi kolaborasi sangat baik antara dalang, sinden, iringan gending serta interaksi dengan masyarakat.
Lebih lanjut dia menjelaskan, setiap lakon yang dibawakan, dilakukan secara serius sesuai dengan pakem. Bahkan di sela-sela pementasan dilakukan interaksi antara dalang dengan penonton, biasanya berupa pesan moral. Inilah yang membedakan wayang konvensional yang dimainkan dalang, dengan e-wayang yang diadaptasikan menggunakan teknologi digital.
“Wayang memiliki nilai historis tinggi. Sehingga tidak dapat dimainkan begitu saja tanpa memperhatikan pakem-pakem yang ada. Inilah yang membedakan wayang dengan kesenian lain. Durasi atau waktu pementasan yang digelar juga lebih lama dengan kesenian lain,” imbuh Ki Barep.
Sehingga, tandasnya, wayang memang harus dimainkan dalang dengan dukungan sinden, pemain gending dan unsur lain yang ada di dalamnya secara langsung di hadapan penonton. “Bukan dipertontonkan dengan cara digital yang lebih mirip dengan film kartun. Saya tidak setuju dengan e-wayang. Meski itu merupakan sebuah inovasi atau terobosan agar wayang bisa mendunia lewat dunia maya
