TERBARU

Rahasia “Mantra” dalam Pilkada


filsuf Inggris sekaligus juga novelis, pernah mengingatkan kita tentang bahaya “bahasa politik”. Menurutnya, bahasa politik dirancang untuk membuat sebuah dusta seolah-olah benar. Dalam bahasa politik, hanya ada satu aturan: semuanya adalah permainan.
Memainkan posisi seseorang yang sejatinya jahat, menjadi seolah-olah malaikat. Merekayasa sesuatu yang sesungguhnya busuk, agar terlihat segar. Merekayasa performa yang aslinya buruk rupa menjadi (sangat) mempesona. Ada begitu banyak strategi, metode, dan teknik untuk melakukan semua itu. Permainan bahasa politik, adalah menjadi induk semangnya. Untuk kemudian beranak pinak menjadi rupa-rupa.
Olehnya, yang pertama kali bongkar dalam urusan bahasa politik adalah kebenaran itu sendiri. Keberadaan fakta, kaidah nalar sehat, lurusnya logika, konsistensi, nilai-nilai kemanusiaan, serta komitmen pada kebenaran, menjadi tanggal. Kalaupun semua itu muncul, maka semata menjadi selubung retorika politik.
Terlalu banyak jika menelisik satu per satu. Maka mari lakukan uji petik, demi memahami bagaimana cabang-cabang bahasa politik menjelma dalam kontestasi Pilkada. Salah satu yang paling menarik adalah mantra…
Per definisi, mantra adalah bahasa ujaran dan gerakan yang tidak terikat oleh makna, melainkan terpatok pada tujuan (yaitu mengelabui atau mempengaruhi, dalam bahasa akademik, disebut dengan sugesti). Karena itu, tak heran jika bahasa ujaran dan gerakan yang ada dalam mantra tidak pernah disiplin pada pengertian tertentu (logos, arti dan makna). Bebas saja. Malah terkadang sangat sulit dimengerti —dan dengan sengaja dijadikan sulit dipahami. Bahasa mantra hanya setia pada arah tujuan, olehnya yang ditekankan adalah pada aspek etos (kejiwaan, psikologis). Tiang penyokong bahasa mantra terletak pada instrumen magis, fantastis, dan —terkadang— erotis…
Terkesan kuno bukan?
Sepenuhnya mantra memang warisan manusia purba. Akan tetapi hari ini terjadi komodifikasi. Mantra yang nyaris klasik, dihidupkan kembali. Lewat teknologi, oleh kecanggihan riset, dengan taburan citra, dan melalui pengolahan opini publik. Titik serangan mantra politik terkini, dengan demikian, bukan pada medan intelektual dan wilayah rasional, melainkan pada sisi persepsi, imajinasi, dan mimpi-mimpi manusia moderen. Dalam ajang pertarungan Pilkada, bahasa mantra politik menelusup masuk melalui sisi ini. Terutama untuk mereka yang mudah jatuh dengan pendekatan magis, fantastis, dan erotis.
Tak ayal, taburan kampanye Pilkada begitu marak dengan mantra politik. Perang baliho, adu banyak spanduk, hujan informasi, dan tayangan iklan dalam ajang Pilkada lebih kencang dengan nuansa magis, fantastis, dan erotis (sensasi fisik). Sebab medan wacana dalam politik kita jauh dari argumentasi, keseriusan ber-nalar, dan kekuatan logika. Malah yang banyak muncul adalah bahasa-bahasa mistis (lewat pengungkapan restu, wahyu, atau klaim dukungan tokoh yang memiliki aura dan pengaruh). Lalu dominasi ungkapan-ungkapan fantastis juga begitu kencang, lewat janji “peduli”, “pro rakyat”, “tokoh perubahan”, dan lain-lain. Sementara perang persepsi dalam Pilkada dengan mantra erotis muncul dalam kampanye yang menyertakan artis, keseksian, ketampanan, kecantikan, dan rupa-rupa sensasi fisik lainnya.
Semua itu jatuh hanya sebagai mantra, karena tidak memiliki makna (tak ada unsur pencerdasan, kritisme, ataupun argumentasi).
Pengungkapan atas semua itu terasa perlu, ketika kita butuh penjelasan atas dampak Pilkada yang dikeluhkan di mana-mana. Orang begitu jengah, dengan peragaan mantra Pilkada di berbagai tempat. Karena hanya berisi slogan kosong tanpa arti. Melulu menjejalkan fantasi dan imajinasi, tetapi jauh dari bukti.
Kesempatan untuk menghindar terasa sempit. Virus Pilkada menjalar di sana-sini. Satu-satunya benteng terakhir untuk selamat dari mantra Pilkada adalah batok kepala kita. Di mana otak cerdas dan nalar sehat masih bisa terlindung. Rasio kitalah yang mampu membongkar berbagai jenis mantra Pilkada. Agar tidak selalu kalah dan hanya bisa pasrah…

Recently statement

Recently Added